Satu pertanyaan menohok dan bikin bosen sih :
"Eh, pacarmu siapa sekarang?"
"Eh, kapan kawin?"
"Eh, kapan nyusul kita-kita?"
Wait-wait, kinda dejavu, ain't it? Haha, you're right, i'm not kidding, it's annoying. Mungkin bukan buat saya saja, buat orang-orang lain di luar sana bisa jadi sama annoyingnya. Ada ribuan cerita serba-serbi seorang jomblo. Ada ribuan twit ngebahas hal yang sama. Tapi ya, saya sadar, usia saya memang udah waktunya orang-orang bertanya yang demikian itu tadi. Saya sadar dan mengerti. Tapi, kalo saya gak nyaman dengan itu semua, hak saya juga dong, ya.
Ada yang bilang, anggap saja itu doa dan motivasi, okey saya paham. Saya berterima kasih sekali kalo memang demikian. Pada akhirnya saya kebal sendiri sih sama pertanyaan-pertanyaan itu sampe akhirnya yang bilang demikian adalah orang yang lebih muda dari saya. Wait,wait, sekarang udah 2011 ya? Sorry, saya gak sesadar itu sama tanggalan :p (ngiris jari pake piso karatan)
Tengok kanan, tegok kiri, ah tenang, masih banyak rewang (temen senasib). Tak terasa, satu persatu teman-teman yang memasuki fase kehidupan yang baru, menjadi istri orang, menjadi suami orang, menjadi ibu/bapak orang. Yah, wajar ya namanya kehidupan, beginilah dinamikanya. Satu persatu undangan, kodangan, kenduri, syukuran disambut dengan bahagia, dan tentunya dihadiri. Mengucapkan selamat menjadi rutinitas mingguan yang paling menyenangkannya buat saya adalah bisa punya kesempatan buat bisa pake baju bagus dan dandan secara wajar. (Waduh, disorientasi tujuan hidup nih kayaknya :p)
Bagian serunya lagi, bisa dateng sama rombongan bujangan-bujangin yang lain rame-rame. Aman deh, gak perlu bawa pasangan,toh. Kepikiran gak, kalo rombongan bujangan-bujangin ini bakal saling susul-menyusul menuju ke gerbang yang sama dan meninggalkan mereka yang tetep betah di posisi yang lama?
Sesekali pengen noyor diri sendiri, mau sampe kapan mau kayak gini? Ini bukan denial, tapi memang orang yang seharusnya menjadi pasangan saya, ya memang belum datang. Usaha dong! Udah.. tapi ya kalo memang ceritanya belum bisa dirajut saat ini, apa saya harus menggugat Tuhan? (oh Tuhan, maafin jadi bawa-bawa namamu, habis mereka sih.. lha tukang ngadu)
Kadang status "single" bikin "teu ngeunah-ngeunah" juga sih. Pernah gak berada di situasi kamu laper, punya makanan, tapi cuman sedikit, di depanmu ada orang lain. Dilema, mau makan gak nawarin, takut dibilang gak sopan. Mau gak makan, perut udah melolong, menzalimi diri sendiri. Mau dibagi, kaga cukup buat berdua. Akhirnya mau gak mau kita mengambil salah satu dari tiga opsi kan, kesemuanya ada resiko. Begitu juga dengan menjalani hidup. Pilihan hidup untuk menikah? pasti banyak pertanyaan yang dihadapi, siapkah kita, siapkah pasangan kita, samakah persepsi dan tujuan hidup kita dengan pasangan? oke compromised! lalu tetek bengeknya banyak sekali. Ini itu, banyak deh. Tapi kebanyakan orang bilang menikah itu enak. Resiko dalam rumah tangga adalah konsekuensi yang gak bisa dihindari, ya kan. Sepaket lah intinya.
Belum siap menikah, tapi pengen punya tempat mencurahkan perhatian dan diperhatikan? Banyak yang memutuskan pacaran dulu aja. Oke, asik ya, seneng. Resiko? Lebih banyak, godaan juga banyak. Tapi paling enggak, kalo ternyata gak cocok sama pasangan, gak perlu ke pengadilan. Cukup kesepakatan bilateral saja. Tapi ya, siapa sih yang mau pacaran, terus berencana untuk putus?
Being single? Seneng banget, mau apa aja bebas, kemana aja sama siapa aja gak ada yang ngebatesin. Tapi jangan dikira paling aman, ya. Emangnya ngejawabin tiga pertanyaan di atas gak cape apa? Belum lagi rentan gosip (berasa artis). Tapi ya itu tadi, udah resiko. Yang perlu kita pahamin, being single, in a relationship or married, semuanya adalah pilihan. Setiap pilihan ada enaknya, ada ribetnya dan ada resiko masing-masing tentunya. Menurut saya, ketiga-tiganya netral saja, gak ada yang salah, gak ada juga yang paling bener.
Saat ini saya single, belum punya pacar, belum bersuami. (sigh, berat banget hatiku nulis kalimat barusan).. Well, saya punya banyak teman. Saya senang bebas ngefans sama siapa saja, sah-sah aja dideketin sama siapa saja. Menyenangkan, ya? Iya, sekarang. Tapi pas mau ke undangan, gak ada pasangan. Pengen nonton, garing juga kalo sendirian, ya kan. Tapi itu pilihan saya, resiko saya. Kadang pengen bilang, ya bukan maunya saya. Tapi bukan berarti, saya punya sahabat, terus pacar sahabat saya mesti menganggap saya teroris, alias pengganggu stabilitas kehidupan asmara mereka. Being single, bukan berarti saya orang aneh, saya alien. Bukan dong. Saya tetap manusia biasa apapun setatus saya.
Saya hanya gadis biasa. Kadang saya rindu kalo ditanya siapa pacarmu? Saya akan menjawab siapa dia, dengan penuh percaya diri dan rasa bangga, ini lho pacarku. Tapi kalo sampe saat ini saya sendiri, apa dosa? Enggak kan? Saya juga pengen kok seperti mereka-mereka yang katanya bahagia itu.

Saya percaya, kebahagiaan itu sumbernya banyak. kalau hilang salah satu, saya yakin, Tuhan akan kasih gantinya.. (diiringi gesekan biola menyayat hati) T_T
Akhirul kata, I'm single. That's the fact. And would you please deal with it?
Gambar pinjem di istockphoto.com
Eh, Setuju sama saya? hit the like button! Danke!