Malem ini setelah bosen muter sana muter sini akhirnya saya iseng-iseng menyapa beberapa teman di friendlist yang jarang saya sapa sebelumnya. Ternyata, adalah salah satu partner chat saya yang bisa dijadikan topik untuk posting hari ini.
Ceritanya, saya menanyakan kabar perawatan ortho yang sedang ia jalani, sebab kemaren dulu dia pasang behel ke dokter yang sama dengan dokter yang menangani saya. Well, percakapan awal sih enak-enak aja. Eh, tiba-tiba dia nanya : "dokter kita tu bagus gak sih?" kok dokter kulitku bilang "emang dia bisa ortho?".
Saya hanya jawab sebagaimana pengetahuan saya tentang reputasi si dokter ini, yaitu bagus. Sebab, saya rasakan pelayanannya prima. Saya perhatikan pasiennya cukup banyak. Terus ya, sepanjang saya perawatan sampe saat ini gigi saya baik-baik saja, malahan makin rapi. (yaiyalah).
Nah, dia kemudian mengutarakan keraguannya akan si dokter gigi saya ini. Katanya aneh lah kok Drg tapi Ir juga. Dia malah gak percaya akan fakta kalo saya sempat liat CV si dokter dimana gitu, kalo beliau selain ngambil gelar Drg di Jakarta, sempat menempuh pendidikan lanjutan di Hong Kong, Singapore dan New York. Memang itu bukan satu-satunya jaminan ya, tapi cukup lah untuk meyakinkan saya kalo dokter yang saya percaya memilik kemampuan yang "mumpuni". Saya pun memilih beliau selain karna dekat dengan tempat tinggal saya yang lama, juga karna atas rekomendasi kakak saya sendiri.
Dia bilang dia jadi meragukan, karena terpengaruh omongan dokter kulitnya (padahal dokter-dokter ini tetanggan, lho). Saya hanya menyarankan teman saya ini untuk tetap positif thinking karena percuma aja ragu kalo ragunya sekarang. Alesannya, pertama karena harusnya dia harus yakin dulu sebelum mengambil keputusan untuk memilih dokter yang ia percayai. Kedua, lah behelnya udah ditanem, masa iya baru bilang ragu sekarang. Terus, yang ketiga sampe saat ini saya tidak pernah mendengar komen negatif tentang dokter ini sebelumnya. Yang ada malah orang yang "gagal" dari dokter lain malah larinya ke beliau atas rekomendasi orang terdekatnya tentunya.
Oke, apa saya terpengaruh? Enggak sih. Kalo kepikiran sih, iya. Yang saya gak habis pikir kok ya dokter kulitnya itu sama-sama dokter kok malah "berkomentar negatif" pada orang yang satu profesi dengannya (walo pun beda ya dokter kulit sama dokter gigi). Untungnya apa?
Nah, temen nampak ragu dan sepertinya dia takut, gimana kalo emang dokter kita gak bagus. Ini dia yang bikin riweuh pikiran saya, soalnya kan dia ke dokter ini karna rekomendasi saya. Saya kan jadinya gak enak dong ya. Langsung close jendela percakapan dengan teman saya itu karna males aja kalo saya jadi ketuleran "ragu-ragu" nya dia.
Saya kepikiran gini, kalo diibaratkan temen saya itu berada di situasi kegalauan rumah tangga. Faktanya, suami dia adalah seseorang yang saya rekomendasikan, begitulah kira-kira gambaran perasaan saya saat ini. Saya merasa bersalah dong ya kalo ada "apa-apa" yang gak "match" dalam rumah tangga teman saya itu dengan rekomendasi saya itu. Tapi di sisi lain, saya juga gak bisa disalahkan karena yang "memilih" dan menjatuhkan pilihan/memutuskan kembali ke dianya sendiri. Nah, kalo terjadi "sesuatu" ya bisa dikatakan menjadi resiko dia sendiri sebagai pengambil keputusan.
Ibarat orang nikah tuh, temen saya itu curhat "bener gak ya saya milih dia jadi suami" ke saya yang dulu ngejodohin dia sama suaminya. Salahnya dia dimana, ya karna dia curhatnya setelah dia kawin dan punya anak. Begitulah kira-kira. Sebenernya jauh juga menganalogikan dokter gigi sebagai suami dan behel sebagai anak. Tapi intinya ya itu, dalam hidup itu kita harusnya yakin dulu baru maju. Kalaupun memang terjadi sesuatu semuanya merupaka resiko atas pengambilan keputusan. Masalahnya, sampai saat ini kan, tidak terjadi apa-apa. Yang ada malah temen saya yang galau sendiri.
Lalu, gimana kalo apa yang dikatakan si dokter kulit itu benar. Ketakutan temen saya kalo giginya malah "berantakan" pasca perawatan jadinya benar. Saya hanya bisa bilang, kok tega-teganya mendahui takdir. Saatnya sekarang hanya berdoa dan meyakinkan diri saja sih. Percayakanlah kemampuan doktermu. Kalo kita aja sebagai pasien gak yakin, ya ngapain dateng-dateng lagi, ya kan.