Dulu waktu masih kecil, kalo kita punya teman baru kita diajarin buat kenalan dulu, tanya namanya sambil salaman. Sopan santun dan ramah tamah banget gak sih. Berbeda dengan sekarang, tinggal ngeadd, tinggal follow, udah deh terhubunglah kita ke orang yang kita pengen ajak temenan. Terkadang, tidak semua orang yang ada di friendlist kita merupakan teman di dunia nyata.
Saya pun memiliki beberapa pengalaman lucu mengenai pertemanan via dunia maya ini. Saya temenan di fb dengan seorang teman yang di dunia nyata tidak terlalu akrab tapi kita saling kenal karena satu angkatan di salah satu pelatihan kantor. Saya memang membatasi friendlist saya untuk orang yang dikenal saja. Untuk teman saya yang satu ini, meskipun berbeda instansi namun kenyataannya kita berkantor di gedung yang sama. Entah siapa yang nge-add siapa yang di-add pas ketemu gak sengaja di ATM ataupun kantin, keramahan saya sering dicuekin entah dengan alasan apa olehnya. Saya tidak tau apakah dia tidak melihat saya atau gimana, saya rasa dia rabun, yang jelas lama kelamaan saya malas buat negur dia duluan lagi. Saya sempet konfirm ke teman lain menganai dia, jawaban sih rata-rata : "wajar sih si X kan emang kalo temenan milih-milih". Saya tertegun, Oh, berarti saya bukan tipe temen "terpilih" versi dia. Ya udahlah gakpapa, kan temen bukan dia aja.
Satu hari saya mengganti status fb dari "single" menjadi "in a relationship" dengan seseorang yang dia juga kenal. Tau apa? tiba-tiba di lobby kantor dia bertegur sapa dengan ramah dan mengkonfirmasi kebenaran kabar perubahan status saya waktu itu. Alamak, kaya wartawan infotainment aja dia ya.. Saya sadari dia mulai tersenyum dan kita gak lagi sekedar temenan di fb, tapi juga bertegur sapa di dunia nyata.
Singkat cerita, akhirnya saya kembali "single" dan lagi-lagi teman saya yang satu ini mengkonfirmasi kebenarannya. Well, saya anggap saja dia penggemar saya dan saya tanggapi antusiasme dia dengan sewajarnya. Hari-hari berlalu dan saya sudah jarang bertemu lagi dengannya.
Satu hari si teman ini menikah, saya pun taunya dari mutual friend kita. Saya diudang gak kira-kira? Sudah nyangka sih dari awal, saya tidak mendapatkan undangan darinya maupun suaminya, padahal semua teman pelatihan seangkatan yang di jabodetabek maupun yang ada di pelosok Indonesia juga kayanya diundang, at least dikasih kabar lah. (saya tau ini setelah melihat beberapa ucapan yang gak sengaja nongol di newsfeed fb). Saya ikutan ngucapin gak? Enggak. Saya sakit ati? Iya, sedikit, masa iya gak diundang, sedang orang lain yang jauh-jauh aja pada diundang.
Tapi saya anggap saja mungkin dia lupa. Mungkin aja budget undangannya terbatas. Mungkin pestanya sederhana dan private banget. Atau bisa aja dia segan untuk mengundang saya takut gak patut menghadiri pestanya. Hehehe.. yah saya karang sendiri aja lah untuk membesarkan hati.
Setelah beberapa waktu tidak ketemu, bertemulah kita tidak sengaja lagi-lagi di ATM. Lalu saya mencoba menegurnya. Ya, ego saya membuat saya tidak tergerak untuk mengucapkan selamat padanya. Padahal, gak rugi juga ya, mendoakan buat kebahagiaan dia. Well, akhirnya saya berpura-pura tidak mengetahui kalo dia baru saja melangsungkan pernikahan. Biarlah dibilang gak gaul dah. Hehehe..
Makin kebawah kok ya jadi rumpi abis nih postingan. Tapi gak papa lah. Rada lega juga jadinya. Tapi itulah kenyataannya, pertemanan di fb terkadang tidak berbanding lurus dengan pertemanan di dunia nyata. Karena pertemanan di fb itu hanya mensyaratkan "add as friend" dan "confirm". Berbeda dengan pertemanan di dunia nyata dimana dibutuhkan beberapa proses penerimaan dan pengakraban sebelum kita benar-benar berteman dengan orang lain. Berteman itu berbeda dengan sekedar kenal. Itulah yang tidak diakomodasikan oleh sistem pertemanan di FB. Jadi yah, tidak heran kalo kejadian seperti yang saya ceritain tadi bisa terjadi. Temenan kok kaya gak temenan. Hehehe..