Minggu, 13 Maret 2011

Mencintai Diri Sendiri Juga Butuh Pengorbanan

Mencintai diri sendiri adalah sebuah proses tanpa henti yang dipelajari manusia sejak lahir hingga dewasa, bisa dibilang hingga tutup usia. Bagaimana tidak, jika bukan diri kita sendiri, pribadi mana lagi yang mau meluangkan waktu dan pikiran untuk memikirkan yang terbaik untuk diri kita. Mulai dari sikap dan perilaku macam apa yang harus dilakukannya setiap hari, kebiasaan baik apa yang harus diulangnya tiap hari, serta penampilan seperti apa yang mau ditampilkan, semuanya demi satu sasaran, yakni pencitraan diri. Citra diri seperti apa yang ingin kita dapatkan, baik atau buruk, tergantung bagaimana cara kita mencintai diri kita.

Penilaian yang paling mendasar mengenai citra diri seseorang biasanya dimulai dari kulit terluar, yakni penampilan seseorang. Secara fisik, kita dibekali Tuhan dengan berbagai macam atribut dan panca indera yang menunjang penampilan kita. Ada yang terlahir dengan fisik yang sempurna, ada yang tidak. Ada yang dikategorikan ganteng/cantik, ada yang biasa saja. Semuanya diciptakan dengan takdirnya masing-masing.

Definisi cantik/ganteng juga relatif, tidak mutlak sama bagi tiap-tiap orang. Mata lentik, hidung mancung, pipi tirus, bibir tipis, kulit cerah, mungkin merupakan komponen kecantikan seorang wanita, namun apabila ia berjambang bisa-bisa penampilan wajah secara keseluruhan akan terganggu penilaiannya. Ada juga yang matanya biasa aja, hidungnya biasa, bibirnya biasa, kulitnya juga biasa aja, tapi dengan perpaduan yang pas menciptakan harmoni pada seseorang menjadi berparas jelita. Waduh.. lama-lama bisa pingsan saya nulis dengan gaya bahasa se-"sastra" ini.

Intinya, kecantikan/ketampanan diri seseorang merupakan sesuatu yang relatif. Namun, yang jarang kita sadari adalah tentang penerimaan diri ini apa adanya. Kadang kita lupa akan kesempurnaan fisik kita, ketika kita mulai membandingkan fisik kita dengan orang lain yang menurut kita lebih cantik/lebih ganteng. Biasanya kekurangpercayaan diri ini dimulai ketika masa pencarian jati diri a.k.a masa remaja (yang penuh gejolak kawula muda). Ceileeee..

Saya ingat dulu waktu masih abege, betapa terobsesinya saya untuk memiliki kulit putih. Sampai-sampai semua produk kecantikan berlabel "whitening" saya (maksudnya, ibu saya) beli untuk menunjang impian memiliki kulit yang putih cerah bersinar. Masalahnya, saya terlahir dengan kulit kuning langsat. Lah, gimana ceritanya bisa-bisanya kepikiran buat punya kulit seputih artis hongkong/korea/taiwan/jepun yang saya saksikan di televisi. Belum lagi soal tinggi badan. Saya ingat ketika saya mati-matian berlatih fisik untuk menambah tinggi badan, padahal masa pertumbuhan juga udah lewat. padahal, emang udah nasibnya punya badan tinggi semampai (semeter dikit aja nyampainya). Akhirnya pada satu titik saya tersadar, bahwa jika saya tidak bisa menerima apa yang saya miliki sekarang, sampai kapan saya bisa mencintai diri sendiri. Mau kapan lagi mulai pedenya?

Seiring berjalananya waktu dan seiring dengan informasi yang kita dapatkan dari berbagai sumber, muncul image tertentu dalam benak kita sebagai komponen identitas dari kecantikan/ketampanan ideal. Itulah mengapa orang-orang belakangan ini mulai berlomba-lomba mengejar image ideal versinya masing-masing. Ada yang berlomba-lomba memutihkan kulitnya lah, merampingkan tubuhnya lah, membesarkan ototnya lah, dan macam-macam sampai di Korsel sana operasi plastik menjadi sesuatu yang lumrah, demi mencapai image ideal bagi diri masing-masing orang. Sebenarnya semuanya sah-sah saja, selama tidak merugikan orang lain dan tentunya tidak bertentangan dengan agama yang dianutnya.

Semua bermuara dan berujung pada satu, bagaimana untuk mendapat citra/image terbaik di mata orang lain. Padahal, yang penting itu diri sendiri dulu kan, baru orang lain. Bagaimana ceritanya orang lain bisa menerima diri kita, bila diri kita sendiri belum bisa menerima diri sendiri. Penampilan sebenanya hanyalah sebuah kulit luar yang membungkus kepribadian seseorang, ujung-ujungnya bila penampilan yang baik tidak disertai dengan perilaku yang baik kecantikan diri juga nantinya akan luntur juga. Belum lagi faktor usia, kalo gak kaya-kaya banget, rasanya susah deh buat cantik sampe nenek-nenek.

Lalu apa yang bikin kita selalu inget sama nenek kita, sama kakek kita yang rata-rata kita kenal ketika mereka telah renta. Yang rata-rata kita kenal dengan fisik lemah, ubanan, dan keriput? Tentu saja kebaikan hatinya. Bagaimana bijaknya sikap mereka, bagaimana mereka menceritakan dongeng si Kancil atau kisah pada Nabi sebelum kita tidur, bagaimana sabarnya mereka mengajarkan kita mengaji, dan banyak kebaikan lain menjelang mereka benar-benar pergi. Apa yang kita ingat? Kebaikannya kan, bukan fisiknya.

Jauh juga ya sampe ke nenek/kakek segala. Tapi yah intinya itu. Ngerti kan. Lagian bahas yang gini-gini rasanya klasik banget. Beberapa dari kita mungkin bela-belain latihan fisik yang keras bakal apa, sakit-sakitan ditarik giginya oleh behel bakal apa, ke salon lama-lama bakal apa, salah satunya bisa jadi untuk menuju citra ideal versi kita yang tadi dibahas. Tentunya juga untuk memberikan kepuasan diri dalam rangka proses mencintai diri sendiri. Berkorban waktu, tenaga, uang, mental juga, intinya pengorbanan. Jadi boleh dong, saya simpulkan kalo mencintai diri sendiri itu butuh pengorbanan. Jika gak mau bekorban materi dan fisik, minimal harus mampu berkorban hati, untuk lebih bersabar menerima diri apa adanya. Jalan mana aja yang mau kita tempuh semuanya boleh. Yang penting kita tidak lupa kalo yang lebih penting dari segalanya adalah satu, yaitu kepribadian yang baik.

Gambar pinjem dari sini