Ada yang bilang :
"Menua itu takdir, namun dewasa itu pilihan.."
Pertambahan usia mutlak membuat fisik menua. Anak kecil menjadi bertumbuh. Seiring fase kehidupan, ada sebagian orang yang bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa, ada yang tetap mencintai kebeliaannya. Bahkan pada beberapa individu, kedewasaan yang bertumbuh sepertinya "stuck" di satu titik dimana ia kembali menjadi "seperti anak kecil".
Ketika masih belia, ada satu hal yang paling saya takutkan, yaitu kedewasaan. Saya takut menjadi orang dewasa. Saya takut akan satu hari saya dipanggil "ibu" walaupun secara harfiah saya belum menjadi punya anak. Saya ingin selalu menjadi orang yang polos, tanpa beban, tanpa tekanan dan tuntutan untuk selalu matang dalam mengambil setiap keputusan. Jika kita masih kecil, jika kita salah paling-paling ibu kita bilangnya : gakpapa, namanya juga anak kecil. Dengan menjadi dewasa kita tidak bisa lagi memakai tameng semacam itu. Menjadi dewasa berarti harus selalu benar, tidak boleh salah. Yah, Begitulah pandangan saya yang kurang dewasa dalam mendefisinikan arti kedewasaan, kala itu...
Seiring berjalannya waktu, ada satu dan lain hal yang mengubahku dan jalan pikiranku. Ternyata kedewasaan itu bukan merupakan sesuatu yang dapat diraih serta-merta sejalan dengan pertambahan usia. Kedewasaan adalah suatu proses dan kita menyempurnakannya dari hari ke hari. Mengalami berbagai masalah, menemui bermacam-macam orang yang berbeda-beda sifat dan karakter, membentuk diri kita.
Lalu kedewasaan membedakan manusia menjadi empat kelompok :
a. Anak kecil bertingkah layaknya anak kecil;
b. Anak kecil bertingkah layaknya orang dewasa;
c. Orang dewasa bertingkah layaknya anak kecil;
d. Orang dewasa bertingkah layaknya orang dewasa.
Mengenai Tipe a dan d rasanya merupakan sesuatu yang normal dan tidak perlu dibahas. Untuk tipe d dan c? Well, they're truly exist and maybe we are one of them. Anak kecil bertingkah layaknya orang dewasa alias (act) dewasa sebelum waktunya? Ada. Banyak malah. Coba tes, adek-adek kita suruh nyanyi lagu anak-anak ciptaan Pak kasur, kira-kira hapal berapa lagu hayoooo.... Terus coba deh suruh nyanyi lagu ST12 atau Band Wali, hmmm dijamin anak kecil sekarang lebih ahli menyanyikan lagu cinta-cintaan dibandingin lagu anak-anak. Dan, hari gini anak SD aja udah pacaran. Jaman kita dulu? Ya ampun, boro-boro pacaran, umur sekolah malah sibuk manjatin pohon belimbing milik tetangga (perkara buahnya udah mateng apa belum itu urusan belakang, hehe). Sepertinya televisi telah menciptakan revolusi daya pikir sedemikian rupa, sehingga anak SD pacaran dianggap lumrah, gedenya? jangan kaget dengan survey sebagian besar remaja putri di kota besar sudah tidak perawan lagi di usia awal belasan tahun. *Sigh*

contoh makhluk tipe b, anak kecil bertingkah dewasa :p
Tipe c : orang dewasa bertingkah seperti anak kecil. Banyak juga. Suka sirik sama temennya. Suka jahilin orang tapi balik dijahilin gak terima. Suka mencela teman tidak pada tempatnya. Ngambekan. Dan lain sebagainya.. (Kalo dirinci lagi bisa -bisa gak selesai di satu postingan,hehe...). Entah memang pola asuh yang salah, atau memang tidak berminat menjadi pribadi yang dewasa, sebagaimana kalimat pembuka postingan ini : Menua itu takdir, namun dewasa itu pilihan.
Saya pernah berada di tipe c ini. Menyedihkan memang, ketika usia tidak membuat kita mempelajari satu hal baru. Mungkin saya termasuk yang lambat dewasa, namun semakin hari saya berusaha membuktikan bahwa saya adalah seseorang yang bisa diandalkan di segala situasi yang menuntut kedewasaan di level-level yang sesuai.
Dan ternyata, menjadi tempat orang-orang terdekat meminta saran, menjadi tempat adik-adik bertanya, menjadi orang yang pendapatnya dipertimbangkan, merupakan hal-hal menyenangkan. Tambahan, dipanggil "ibu" di tempat kerja, lama-lama terdengar menyenangkan juga. Hey! Saya sudah dewasa. Setidaknya beberapa orang menganggapku demikian.
"Growing up is fun, baby...!"