Kamis, 03 Februari 2011

Tentang Public Speaking

Baca puisi di depan kelas, malu. Disuruh baca Pembukaan UUD 1945 pas upacara bendera, malah suara tidak keluar, alias tercekat di tenggorokan. Perkenalan diri dengan bahasa inggris pun gelagapan. Intinya : memalukan. Well, Public speaking merupakan tantangan tersendiri dalam kehidupan seseorang karena kita bicara di depan umum, di depan orang banyak, dimana kesemua audience bertugas untuk mendengar dan barangkali berkomentar mengenai kita dan apa yang kita bicarakan. Tantangan ini jauuuuuh lebih berat dari sekedar berbicara empat mata dengan orang yang kita kenal dengan baik. Anyway, seni berbicara, mengungkapkan sesuatu melalui kata-kata, berkomunikasi secara lisan alias ngomong itu merupakan hal yang gampang-gampang-susah.

Gampangnya? Ya tinggal mangap, gerak-gerakin mulut, lidah, ngeluarin suara dari kerongkongan. Viola! Selamat anda barusan ngomong. Susahnya apa? ya itu, merangkai kata-kata yang tepat untuk membuat orang memahami apa yang kita maksud. Tapi, disitulah seninya, yang membedakan orang menjadi dua macam : yang pinter ngomong, sama yang gak pinter ngomong.

Pada dasarnya saya sendiri adalah orang yang suka ngomong. Jangankan ngobrol sama temen, lagi tidurpun saya ngomong (itu mah ngiggau namanya, hehehe). Semakin bertambah umur dan pengalaman, semakin saya menyadari bahwa seni berbicara di depan umum tidak hanya perkara ngomong doang, tapi ada beberapa hal yang mesti dikuasai :

1. Topik : kita harus minimal memiliki, jika tidak harus menguasai topik yang ingin kita bicarakan.
2. Teknik berbicara : kita harus mampu bicara dengan jelas. Volume pas, gak kekecilan gak kekencengan. Pengucapan alias artikulasi juga harus jelas. Semuanya bisa dilatih kok. Saya punya temen yang entah karena memang logatnya atau memang dia ngomongnya suka gak jelas, tapi sering menimbulkan perselisihan kecil karena saya salah dengar (habisnya suaranya gak jelas, sih). Terakhir ceritanya saya mengecek laporan kantor daerah. Eh, Dia ngomong Denpasar, saya dengernya Makassar. Wajar aja pas nyocokin data gak ketemu-ketemu angkanya, orang yang dibicarain beda.. cape deh (-.-)"
3. Bahasa : kita harus menguasai minimal satu bahasa dengan baik. Tanpa adanya bahasa, maka tidak ada komunikasi lisan yang efektif.
4. Keberanian dan kepercayaan diri : Grogi pas awal bicara itu biasa, tapi kalo udah gak pede, dijamin tidak akan kata-kata bagus yang keluar dari mulut kita. Soalnya otak kita sibuk untuk mengkhawatirkan hal buruk (yang belum terjadi) dan tidak sempat untuk justru memikirkan kata-kata yang efektif dan tepat.

Ah ribet, langsung praktek aja! Dijamin semakin sering kita bicara, semakin banyak kesempatan kita berbicara di depan umum, maka semakin baik kemampuan kita berbicara di depan umum. Mengenai unsur keempat yaitu kepercayaan diri bisa dibangun dengan memberikan motivasi yang intens kepada diri sendiri.
1. Apabila audience yang diajak berbicara orang yang setara dengan kita, maka cara membangun rasa pede adalah dengan berpikir bahwa mereka membutuhkan informasi yang penting dari kita, jadi kita berkewajiban untuk menyampaikannya dengan baik.
2. Jika audience adalah orang-orang yang levelnya lebih tinggi dari kita, maka berpikirlah bahwa mereka bukan juri kontes adu bakat, mereka bukan rival debat, mereka juga bukan orang-orang yang sempurna. Berpikirlah bahwa mereka akan senang melihat kita berhasil menakhlukkan ketakutan kita berbicara di depan umum.

Dijamin pikiran-pikiran yang positif adalah penolong yang baik. Jika kita tidak tau siapa audience kita, misal nih kita diwawancarai televisi. Ya sudah, anggap saja tidak ada yang menonton, Dijamin kita akan lebih tenang dan lancar dalam berkata-kata. (hehehe.. pengalaman pribadi).

Teman-teman dan keluarga saya sering menjuluki saya "pendongeng" atau "tukang rayu" katanya saking "meyakinkan"nya cara saya berbicara. Padahal yang dibahas ringan saja, tapi terkesannya "wah". Aku suka sekali ngomong, istilah orang Palembangnya "nyenyes" alias ceriwis. Bahkan ketika saya mengomentari kepuasan terhadap suatu produk, saya pasti dibilang "mbak-mbak marketing". Ketika menjelaskan sesuatu yang agak berbobot aku dipanggil "ibu guru/ ibu dosen". Halah, ada-ada aja kan. Jika saya cerita pengalaman baca puisi di depan kelas yang ancur-ancuran dulu, dijamin tidak ada yang percaya. Jika saya bilang saya ini gak pedean, dijamin juga tidak ada yang percaya.

Tapi yah itu masa lalu, jaman SD, SMP, masa-masanya belajar. Dulu masih sekolah kita berlatih teknik bicara dengan baik dan belajar beberapa bahasa. Udah gede begini, udah keharusan untuk mengisi kepala ini dengan banyak informasi agar selalu memiliki topik untuk dibagi dengan orang lain. Informasipun tidak harus didapatkan dengan membaca, dengan ngobrol dan menonton pun kita bisa mendapatkan banyak informasi. Just open your eyes.

"Sampaikanlah walaupun satu ayat"

Soal gak pede ngomong? Karena ngerasa jelek dan gak pantes? (pikiran saya dulu begini negatif soalnya, ckckck.. parah!). Tapi dipikir-pikir sekarang Ih, Ngapain juga ya.. Toh semua orang punya kekurangan, ngapain dipikirin? Takut salah ngomong terus ditertawakan audience? Yaudahlah, itu urusan mereka. Yang jadi urusan kita adalah bagaimana menyampaikan informasi dengan baik dan benar, serta (kalo bisa) menonjolkan kelebihan kita dalam durasi terbatas sehingga orang lain tidak sempat kepikiran tentang kekurangan kita. Misal nih, kalo kita pinter ngelawak, padukanlah topik yang serius dan bikin ngantuk dengan sedikit guyonan. Dijamin semua ketegangan sirna dengan hadirnya tawa ringan. Lagian belum tentu semua pikiran negatif kita itu bener, ya kan...

Pengen bisa ngomong? Berlatihlah. Jika sudah, beranikanlah diri dan lihatlah apa yang akan terjadi.. Semangat!!! (^.^)v