Senin, 07 Februari 2011

Motivasi ala Na

Iya, iya saya bukan Mario Teguh ataupun motivator handal yang berniat membangkitkan motivasi orang yang dengan tidak sengaja membaca postingan ini. Tapi bolehlah saya cerita sedikit tentang kebiasaan baru saya. Gak perlu ditiru, cukup dibaca saja (kalo berkenan, hehe). Ceritanya, hampir sebulanan ini di kantor pekerjaan segitu sengitnya mengharuskan saya pulang agak telat. Kerja malem, di saat saya bisa tidur-tiduran di kamar, nonton dvd sewaan atau streaming k-drama favorit, blogging, atau hanya sekedar ngobrol dengan tetangga kamar sambil nonton tivi. Kerja sampe agak malam, dimana sebagian besar teman lainnya mungkin sedang bersantai di rumahnya masing-masing. Tapi, kok ya saya senang mengerjakannya.

Saya senang melihat ceklist pekerjaan distabilo satu-persatu setelah beres. Semakin penuh warna stabilonya, semakin semangat mengerjakan yang lainnya. Saya semangat melakukannya walau tidak ada tambahan gaji atasnya. Saya suka pulang lebih lambat dan menyambut pekerjaan lain yang menunggu keesokan harinya. Saya suka melakukannya tanpa harus mengeluhkan betapa banyaknya, betapa ribetnya administrasinya, karena itulah resiko pekerjaan.

Apa motivasi saya? Bersyukurlah saya karena ada teman-teman baik yang menemani, sesama tukang lembur walaupun kita beda bagian dan beda kerjaan. Senang rasanya di petang yang melelahkan ketika kantor sudah sepi, kita masih bisa bertegur sapa dengan riang ketika berpapasan. Saling mengingatkan untuk beribadah di tengah pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan. Saya merasakan, pekerjaan bukanlah sesuatu yang baik untuk dikeluhkan melalui update status di facebook. Karena bukan hanya kita, orang lain di muka bumi ini semua punya pekerjaan dengan tantangannya masing-masing.

Hari ini saya pulang sebagaimana jam pulang kantor normal. Rasanya? Berbeda. Masih bisa melihat betapa rindangnya pepohonan di depan kantor. Masih gampang dapet angkutan umum untuk pulang. Dan, nyampe kamar, sebenernya agak kebingungan mau ngapain, selain nonton tivi dan online. Mau olahraga, belum bisa karna gak sempet perpanjang membership. Senengnya? Bisa blogging, bisa lebih memperhatikan kebersihan dan kerapihan kamar atau sekedar mampir sebentar ke Semanggi.

Pulang telat atau pulang tepat waktu, dua-duanya menyenangkan. Karena dua-duanya memiliki motivasinya sendiri-sendiri. Intinya? Bisa-bisanya kita memotivasi diri sendiri. Menulis cerita pun rasanya malas kalo tidak ada motivasi, tidak ada yang pengen diceritakan. Tapi ketika ada teman kita yang tiba-tiba ngebuzz di YM memuji tulisan kita atau ketika kita menyadari bahwa ada orang di luar sana yang menyukai tulisan kita, menjadi motivasi tersendiri bagi diri kita.

Sekarang saya belajar satu hal. Enak-gak enak balik-baliknya ya ke diri kita sendiri. Kadang kita bosan dengan ornamen-ornamen kehidupan Tapi tak apalah, anggap saja menjalani hidup ini kita sedang menaiki wahana roller coaster. Di satu saat kita berada di jalur lambat dan datar-datar saja. Di saat lain tiba-tiba kita di posisi yang mendadak berpacu kencang, menegangkan yang bikin kita teriak histeris. Jika mendatar terus-terusan tentunya hidup ini jadi membosankan. Jika kenceng melulu larinya, bisa-bisa kewalahan. Itulah mengapa Tuhan mendesain kehidupan kita sedemikian rupa dengan formula naik-turun sesuai porsi dan takaran kemampuan kita. Kadang memang iya kita ngeluh, tapi masa iya hidup ini indah terus?

Saya juga suka mengeluh. Kadang saya cape liat hidup dan keadaan yang terkadang kurang menyenangkan. Tapi gak lama, keadaan semakin membaik, terus percuma dong kemaren ngeluh. Tau gini, rugi banget! Lalu penyesalan saya menghantarkan saya pada kebiasaan baru yang agak aneh. Tenang saja, sepertinya teman-teman saya di kantor yang baik hati itu, sudah terbiasa dengannya. Mendengar saya bersenandung, seenaknya mengganti lirik lagu di saat-saat genting. Misalnya ketika aplikasi saya yang sedang error, atau menyanyikan lagu khusus untuk memanggil berkas yang "ketelingsut".

"Kau membuatku tak berdaya, kau error lagi, acuhkan diriku. Bagaimana caranya untuk meruntuhkan ignore-ignore itu... Kau hancurkan aku dengan sikapmu, tak sadarkah kau telah menyakitiku..."

- judulnya : SIMAK ini membunuhku-

atau

"Semua yang kau lakukan SPJ., semua yang kau butuhkan SPJ.."

(padahal harusnya bukan SPJ tapi it's magic)

Tapi saya rasa mendinganlah daripada saya ngeluh terus. Eh, dinyanyiin malah filenya ketemu. Saya rasa kesulitan pada nyerah kalo kita menghadapinya dengan ramah. Hehehe..