Satu hari tiba-tiba salah seorang teman jejaring sosial saya, Rara, memulakan sebuah percakapan yang tidak saya sangka bisa jadi cerita yang cukup panjang. Rara kali ini mengajak saya berdiskusi mengenai model kebaya. Saya tidak tau apakah Rara tau kalo saya yang centil ini gak bakal bisa berhenti apabila diajak berdiskusi tentang kebaya, atau kain tradisional, dan teman-temannya. Tapi sepertinya ia bertemu orang yang cukup tepat.
Malam itu juga saya langsung cari-cari model kebaya sesuai kriterianya : simple, but elegant untuk dipakai ke acara formal. Lalu saya teringat pada hutang ide saya ke salah seorang teman mengenai kebaya seragaman untuk pernikahannya. Malam itu juga saya melanjutkan diskusi tentang hal itu.
Inget kebaya, saya jadi inget kain Songket. Salah satu kain tradisional yang biasanya menjadi pasangannya si kebaya ini. Saya jadi teringat beberapa bulan sebelumnya salah seorang teman di kantor menginterogasi saya tentang kain Songket Palembang. Ceritanya, beliau ini berencana untuk berkunjung ke Kota Palembang dalam rangka perjalanan dinas kantor, sekaligus ingin membeli kain Songket (rencananya untuk meminang sang pacar). Tidak bisa ditutupi betapa excited-nya saya menceritakan ragam motif songket, lokasi berbelanja songket, macam-macam material dasar songket yang membedakan kualitas dan harganya, serta acara-acara dimana biasanya orang Palembang memakai kain songket.
Darimana saya tau dan gimana saya bisa jawab? Nyontek dari internet tentunya. Saya bukan pengrajin songket, saya hanya mencintainya, entah mengapa. Tidak hanya songket saja sebenarnya. Saya ingat dulu ketika masih di Palembang, saya sering diajak ibu saya ke sebuah rumah yang dalamnya begitu banyak macam ragam kain songket, jumputan, maupun kain batik Palembang. Saya ingat betapa betahnya saya disana sampai susah diajak pulang. Walaupun ujung-ujungnya kita cuma beli satu lembar kain saja (habisnya mahal sih).
Demikian pula apabila saya menemani teman ke pasar. Jika sudah masuk ke seksi kain-mengain tradisional, saya tidak bisa diam. Seandainya bisa bayar pake daun nih, semua kainnya saya borong, sampe abang-abang penjualnya deh sekalian.. Hehehe.. (lebay). Jika pun daun dilegalkan sebagai alat pembayaran, bisa-bisa saya ditangkap polisi hutan karena melakukan pembalakan liar.
Jika berkunjung ke suatu daerah pun, bukan makanan atau oleh-oleh camilan yang saya cari duluan, tapi dimana kira-kira tempat bisa "liat" kain. Well, bisa simpulkan sendiri dong apa definisi "liat-liat kain" yang saya maksud. Rasanya senang ketika bertolak dari satu daerah bisa menghadiahi Ibunda dan tentunya diri sendiri, selembar kain khas daerah tersebut.
Buat apa? Asik kok! Kainnya tinggal dibawa ke tukang jahit untuk dibuat baju. Saya memang suka bereskperimen dengan segala macam kain, bahkan tidak jarang kain dari daerah tertentu warnanya "ngejreng" atau motifnya "unik" yang tidak semua orang berani memakainya. Ketika memakainya pun, saya harus menyiapkan "pede" tingkat tinggi untuk menghadapi komentar orang-orang yang unexpected (tidak mudah untuk terlihat wajar mengenakan baju warna terang atau motif unik ke kantor). Beragam sih, ada yang muji (tandanya suka) ada juga yang enggak terlalu suka. Biasanya komen yang kurang suka itu dipengaruhi faktor "salah model" atau menciutnya sedikit ukuran tubuh saya karena efek "ngurangin makan" (ngurangin makan ya bukan diet, hehehe..) Memang sepertinya rekan kantor saya komentator fashion dadakan atau saking perhatiannya, tapi entah mengapa, apapun komentarnya saya tetap bangga. Karena kain tradisional itu maknanya lebih dari hanya sekedar pakaian. Kain tradisional adalah identitas bangsa, perlambang betapa kaya dan indahnya kebudayaan dan seni daerah-daerah Indonesia. Memang koleksi saya belum banyak, saya hanya berharap umur saya masih cukup panjang untuk mencari tau budaya apa lagi yang bisa saya pakai di hari Jumat berikutnya.
Rasanya, tidak harus menjadi seorang Puteri Indonesia kali ya untuk yang beginian. Menurut saya, setiap orang bisa dan berhak kok mencintai dan menunjukkan kecintaannya pada budaya negerinya sendiri. Balik ke temen yang mau beli songket tadi, dia bukan orang pertama yang bilang "kok kamu segitu taunya, sih". Menurut saya, wajar saja, saya perempuan dan saya berasal dari daerah dimana songket yang indah itu dibuat. Rasanya tidak salah jika saya tau lebih banyak. Ssst... Mungkin teman-teman seumuran saya merasakan sedikit rasa malu, atau takut disangka emak-emak dengan memakai kain tradisional. Jadi makenya ya gitu-gitu aja. Batik kan gak cuma Batik Solo, toh? Ya, tidak apalah kalau saya disangka emak-emak, toh nanti juga jadi "emak orang". Asalkan hati ini senang, rasanya opini seperti itu tidak akan jadi gangguan.
Ngomong-ngomong lagi, Sasirangan dari Kalimantan memiliki kemiripan dengan kain Jumputan dari Palembang, dan songket selain dari Palembang juga ada kok di Jambi dan Lampung. Batik? rasanya semua daerah dari Sabang sampe Merauke punya batik khas masing-masing. Tapi yang paling unik memang motif batik Papua. Tuh kan, bicara soal ini saya gak bisa berhenti. Mari kita sudahi saja celotehan ini.
Aaaah... Sepertinya kemaren saya baru beli batik Pekalongan di pasar, googling dulu yuk, sapa tau ada model baju yang lucu.. (^.^)v

Every picture has a story :
Me and a friend in Kain Batik Riau (salah satu buah tangan untuknya ketika saya kunjungan ke Pekanbaru). Semoga senyum temanku yang cantik ini tidak menyiratkan sebuah keterpaksaan, hehe..)