
Yesterday, I finished watching Nicholas Cage's Adaptation. A movie about script-writer's life. Well, if you want to know the story you may watch it yourself. Ceritanya panjang. Tapi menuju akhir film ada kata-kata yang sangat saya sukai.
Karena sesuatu dan lain hal, Donald Kaufman (diperankan oleh Nicholas Cage) berkata kepada kakaknya, Charles Kaufman (juga diperankan oleh Cage). Kira-kira begini dialognya:
Charlie Kaufman: There was this time in high school. I was watching you out the library window. You were talking to Sarah Marsh.
Donald Kaufman: Oh, God. I was so in love with her.
Charlie Kaufman: I know. And you were flirting with her. And she was being really sweet to you.
Donald Kaufman: I remember that.
Charlie Kaufman: Then, when you walked away, she started making fun of you with Kim Canetti. And it was like they were laughing at *me*. You didn't know at all. You seemed so happy.
Donald Kaufman: I knew. I heard them.
Charlie Kaufman: How come you looked so happy?
Donald Kaufman: I loved Sarah, Charles. It was mine, that love. I owned it. Even Sarah didn't have the right to take it away. I can love whoever I want.
Charlie Kaufman: But she thought you were pathetic.
Donald Kaufman: That was her business, not mine. You are what you love, not what loves you. That's what I decided a long time ago.
Donald Kaufman: Whats up?
Charlie Kaufman: Thank you.
Donald Kaufman: For what?
The bold lines were my favorite quotes. In my opinion,that were awesome thoughts. Yang saya maksud adalah bahwa dalam kehidupan ini ada masa ketika kita dibicarakan oleh orang lain, entah itu secara negatif, maupun positif, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Di saat itu terkadang kita (maksudnya disini, saya) mengambil keputusan untuk berhenti berusaha setelah mendengar ucapan negatif dari orang lain.
Padahal sebenarnya, yang di pikiran orang lain ya urusan dia, bukan urusan kita. Yang harus kita fikirkan adalah kebahagian kita sendiri, kira-kira begitu kalo dari segi egoistiknya. Seperti apa yang Donald bilang, Kita adalah apa yang kita cintai, bukan apa yang mencintai kita. Dengan begitu, kita tidak akan perduli, tidak akan menyerah, tidak akan berhenti untuk menggapai yang kita sukai, baik itu cita-cita, pekerjaan, sampai kepada seseorang yang kita harapkan. Pemikiran ini bisa jadi sebuah paradoks dari keputusasaan, egoisme, atau bisa jadi sesuatu yang positif saja, tanpa embel-embel. Itu tergantung dari sisi mana kita melihatnya. dari segi pesimis atau optimis.
Apa yang dikatakan Donald adalah nasehat seorang sahabat kepada sahabatnya yang lain. Even the person we're in love with, doesn't have the right to take it away. That love is yours. You can love whatever you want.
Yah, cuma ingin berbagi saja. If you don't think so, folks, that's your business, not mine..
Hehehe..
Cheers..