Terkadang dalam hidup, kita terlalu memikirkan hal besar, membangun mimpi yang terlampau besar, atau mungkin berharap terlalu besar. Walaupun sebenarnya, tidak ada yang salah dari hal-hal yang besar itu. Namun alangkah baiknya, apabila memikirkan, membangun dan mengharap hal yang besar tidak membuat kita melupakan hal-hal yang kecil.
Ceritanya kemarin, saya mengikuti acara gathering kantor. Acara kumpul-kumpul dengan format standar, dinner, dilanjut dengerin sambutan bos besar, nyanyi-nyanyi, games, dan seterusnya. Tidak lengkap rasanya bila acara ini tidak diikuti oleh yang namanya bagi-bagi hadiah alias doorprize. Entah mungkin karena kurang beramal kebajikan, atau karena kurang beruntung saja, saya dari dulu tidak pernah memenangkan satupun kompetisi keberuntungan macam ini.
Tetapi karena kadung ikutan memasukkan nomor undian, saya berdoa kencang-kencang di dalam hati, penuh tekad dan pengharapan, saya harus mendapatkan doorprize utama yaitu Sebuah Handphone. Walau saya sudah punya handphone, walau saya bukan juragan pulsa, saya belum punya temen sms-an, walo saya gak butuh handphone baru, pokoknya saya harus dapat handphone. Demikian teriak saya dalam hati.
Lucunya, saking pengen menang, makan jadi tak enak, tidurpun tak nyeyak gara-gara mengharap dapat hadiah handphone. Padahal selain handphone, banyak hadiah menarik lainnya yang dibagikan. Mulai dari TV, kulkas, rice cooker, hair dryer sampai panci pun dibagikan secara gratis tanpa dikenakan pajak hadiah(Yaiyalah). Saya tidak tertarik, pokoknya maunya dapet handphone aja. Titik.
Di acara itu hadiah-silih berganti dibagi-bagikan. DVD player lewat, gelas cantik lewat, sampe karpet pun lewat, gak dapet juga. Saya bersyukur, bukan saya yang dapet barang-barang itu. Karena saya cuma berharap buat dapetin handphone.
Komat-kamit dalam hari berdoa biar dapat handphone sampe MC mengumumkan penarikan hadiah handphone dimaksud. Jeng jreng....... Yak, bos besar mengumumkan yang memenangkan handphone adalah nomor...........................
18
Yak tepat sekali! Nomor saya juga 18
Tepatnya 18 dikurang 1 alias 17.
Ah, hancur sudah harapan buat mendapatkan handphone baru. Malah yang dapet temen saya. Nomor selisih satu, tapi nasib per-doorprize-an beda jauh. Ya sudahlah, meskipun sedikit kecewa saya tetap senang karena saya tetap mendapatkan souvenir dari bos yaitu payung (sepertinya pulang dari acara ini, kami satu kantor akan menjajal profesi sebagai ojek payung di tengah potensi hujan deras yang sekarang mendera Jakarta).
Setelah puas bersenang-senang, kami pun pulang ke rumah masing-masing dan turun dari bis jemputan. Saya berjalan pulang bareng si temen yang mendapatkan handphone. Kita cerita dengan serunya dan sampailah kita di cerita tentang handphone. Si teman bercerita bahwa dia sangat tidak menyangka bisa mendapatkan hadiah itu. Tidak seperti saya, justru dia tidak berharap bisa dapet handphone.
Teman saya itu hanya berharap mana dapatnya saja, kalo dapat teko yang sukur, dapat mug ya boleh, yang penting dapet doorprize, deh. Udah, gitu aja doanya.
Tiba-tiba saya jadi malu sendiri. Kok ya kemaren aku segitu sombongnya pengen dapet handphone, gak mau yang lain. Darinya, mengambil pelajaran bahwa ternyata, harapan kecil dan sederhana pun butuh kerendahan hati agar harapan itu bisa dbawa ke atas langit bersama doa-doa lainnya. Kerendahan hari teman saya dibalas dengan hal lain yang lebih besar dari harapan yang dititipkannya.
Tuhan memang Maha Adil dan mengerti kebutuhan umatNya. Dia demikian tau saya tidak sama sekali butuh handphone baru, setidaknya sampai saat ini. Saya yang mimpi siang bolong bakal dapet handphone pun mendapatkan hadiah yang lebih besar dari sekedar handphone, yaitu pelajaran tentang kerendahan hati.

Mejeng bareng handphone baru
Perkara kecil macam pengen dapet doorprize pun kudu rendah hati, apalagi perkara lain yang lebih besar. Yah, memang bukan rejeki saya dapat handphone baru. Tapi disini saya menyadari bahwa terkadang Tuhan tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tapi lebih bijaksana lagi, Dia memberi kita apa yang kita butuhkan.(Na)