Jumat, 10 Juni 2011

Not Bad, Though..

Pulang kantor saya dan dua sidekick saya di kantor, Vicky dan Edward, dolan ke Jakarta Cellular Fair di JCC. Bukan eventnya yang mau saya ceritain, tapi hal yang terjadi sepulang dari sana. Karena cabut dari sana udah mau magrib, kita kebagian rejeki kena macet. Alhasil dari JCC ke Palmerah ditempuh hampir satu jam. Di palmerah, tiga sekawan ini berpisah ke tujuan pulang masing-masing.

Karena lupa bawa kopelan jadwal kereta, akhirnya saya mengutus Punggawa Edward buat nanyain jadwal kereta paling dekat, sementara saya jajan somay dulu karna dari tadi siang cuman kenyang minum air putih doang. Yak, saya cukup terlihat kejam, tentu tidak, Edwardnya kok yang mau. Hihihi.. Makasi ya, ward.. Lagi asik-asiknya bercengkrama dengan tukang somay, eh si Edward ngabarin kalo kereta jurusan Serpong adanya 10 menit lagi. jadilah si somay dibungkus dan saya bergegas ke stasiun. Sampe stasiun ternyata yang ada cuman kereta ekonomi, dan kereta yang AC nya baru ada satu jam kemudian.

Akhirnya, saya putuskna untuk naik yang ekonomi aja, gak apalah, mudah-mudahan gak penuh, pikir saya. Lagian kan, mending 20 menit di kereta non Ac dibandingin nunggu 60 menit di stasiun, udah malem, sendirian pula.

Gak lama, kereta pun datang. Jeng jeeeeeeng... begitu kereta dateng saya langsung speachless. Ternyata yang dimaksud kereta ekonomi bukannya KRL, tapi kereta langsam a.k.a kereta kaleng kerupuk, sodara-sodara.. Hatiku hancur seketika karna seumur-umur jadi pengguna kereta, saya tidak pernah mau dan berani menaiki kereta jenis ini karena selalu penuh dan penumpangnya tumplek blek kaya tumpukan ikan sarden. Belum lagi kebayang kan sensasi aromatherapy yang bakal saya rasakan di dalam kereta yang penuh sesak itu. Pikiran buruk berkecamuk di benak saya. Bukannya saya sok keren ato pengen bilang gak level, cuman gak kebayang aja. Tapi di sisi lain, kayanya bakalan lebih sengsara lagi kalo saya kudu menunggu satu jam lagi demi kereta AC. Akhirnya dengan mengucapkan bismilah, tarik nafas dalam, tahan napas, saya beranikan diri untuk masuk ke kereta langsam nan penuh ini.

Penampakan kereta langsam
source : videousdefutbol.eu

Karena ini pengalaman pertama dan gak kebagian tempat lagi, saya dengan innocent ngambil posisi di dekat lorong, dimana para tukang jualan berlalu lalang. Melihat saya yang kebingungan dan posisi kurang enak, bapak yang berdiri di sebelah saya menawakan tukar posisi jadi saya agak "aman" lah walo berdiri juga. Jadi saya gak bakal kena senggal-senggol para abang-abang penjual tahu dan teman-temannya itu, atau kena arus desak-desakan arus penumpang turun dan naik di stasiun-stasiun berikutnya.

Bapak yang baik hati itu : berpewarawakan sedang, usianya sepertinya udah 40an lebih. Rambut putih mendominasi kepalanya dan ia memakai kemeja putih dan celana warna gelap (entah warna hitam atau biru, karna pencahayaan yang kurang), emang penting ya warna celananya (lol). Kebetulan kondisi di dalam kereta langsam ini tidak memungkinkan saya untuk melakukan kegiatan utak-atik hape atau dengerin musik, jadi ya yang saya lakukan hanya memperhatikan penumpang yang lain, salah satunya si bapak baik hati ini.

Dari air mukanya si bapak ini walo sudah tua, tidak menampakkan kelelahan. Mukanya muka orang baik, bukan karna dia baik sama saya tapi emang mukanya muka baik. Dan bajunya saya perhatikan rapi banget dan kemeja putihnya putih bersih. Ya Tuhan, apa bapak ini malaikat? (lebay mode on). Bapak ini sepertinya tau kalo saya masih newbie di kereta langsam ini, makanya beliau sedikit menjelaskan stasiun yang tidak dihampiri oleh kereta ini.

Kereta yang imagenya menyeramkan bagi saya selama ini, seketika menjadi biasa saja, gak serem-serem amat. Kebetulan dapet posisi yang agak enakan, gak desak-desakan sama penumpang lain dan dapet sirkulasi udara juga. Ditambah lagi si bapak baik hati (saya lupa nanya namanya) membuat saya merasa aman dan dilindungi (kebetulan di tempat saya berdiri isinya laki-laki semua).

Perjalanan 20 menit itu terasa singkat dan tidak lupa mengucapkan terima kasih sama si bapak, pengalaman indah saya ini ditutup dengan keharusan untuk meloncat turun kereta kurang lebih satu meter tingginya. Saking panjangnya kereta langsam ini, gerbong agak belakang gak kebagian pijakan. Well, not bad.. Untungnya waktu kuliah gak jarang terpaksa naik bus yang suka memaksa penumpangnya loncat sebelum kendaraan berhenti dengan sempurna.

Apa cerita di balik pengalaman naik kereta langsam hari ini? Walaupun saya gak jadi kepikiran buat mengulanginya atau mendadak ketagihan, hikmahnya adalah untuk jangan pernah berpikiran buruk akan sesuatu. Seperti hidup, kadang gak selamanya kita mendapatkan kondisi yang nyaman seperti yang kita idam-idamkan. Kadang kita terpaksa "susah" dulu, karena satu kondisi yang mau tidak mau harus kita jalani, tidak bisa kita tolak. Rasanya gimana? I guess it's not bad, though we have to feel the bitter part. That makes us stronger....

Cukup yakin, Tuhan gak bakalan bikin kita sengsara. Di kereta yang super penuh itu aja masih bisa dapet sela yang agak nyaman, dan puji syukur gak keciuman aromatherapy yang dahsyat itu. Hihihi.. entah emang karna keringat abang-abang itu gak beraroma lagi, atau indra penciuman saya yang udah kurang oke atau memang Tuhan punya cara sendiri untuk mematikannya sementara. I dont know for sure..

Yang jelas saya harus berterima kasih pada Tuhan, saya diberikan kesempatan untuk merubah pandangan buruk saya. Kalo nanti ditanya malaikat udah naik kereta langsam ato belum, saya bisa menjawab Iya dengan mantap dan yakin.

Lesson learned : Besok-besok gak boleh lupa lagi bawa jadwal KRL, yah..