Pernah gak sih kepikiran, kok bos gue gitu banget sih. Kok atasan kita banyak kurangnya. Pokoknya kalo lagi kesel sama kerjaan, kadang si bos alias atasan suka disalahin. Pas jaman labil, sama juga kejadiannya. Iiiih.. kenapa sih bokapku gak bolehin aku pulang malem. Kenapa sih Nyokapku mau tau aja urusan aku Kenapa sih aku ortuku gak sesempurna ortu temen-temenku. #ciri-cirianakbandel
Wajar gak sih? Kalo masih kerdil dulu, sih wajar. Tapi kalo udah dewasa gini masih aja pikirannya kaya gitu, patut dipertanyakan, deh..
Atasan dan orang tua adalah figur pimpinan dan teladan. Dari mereka kita belajar dan mencontoh hal baik dan dari mereka juga kita belajar yang buruk untuk tidak ditiru. Menjadi pemimpin, tantangannya banyak, salah satunya kritikan dan ketidakpuasan dari yang dipimpin. Ketika kita berkonflik dengan orang tua, entah itu konflik kecil maupun yang cukup besar (jadi inget Arumi Bahcsin, hehe) #gosipdetected #abaikan, kadang kita cenderung menyalahkan mereka.
Mengapa demikian? Karena kita menginginkan figur mereka untuk selalu tampil sempurna. Kita lupa, kalo mereka juga manusia. Sekuat apapun mereka, kadangkala mereka salah. Sehebat apapun mereka, ada kalanya mereka keliru. Orang tua dan atasan memang harusnya jadi contoh, tapi bukan berarti mereka gak boleh salah, ya kan.
Kita harus ingat, betapa sabarnya mereka ketika mengajari hal baru. Betapa mudahnya mereka memaafkan kita ketika kita melakukan kesalahan "namanya juga masih belajar, yang penting jangan diulangi,ya". Kurang baik apa ya gak sih..
Dalam hal pertemanan, atau pacaran, kita masih bisa milih. Tapi kalo orang tua? gak bisa kan. Atasan? Mana bisa milih juga. Kalo udah tau gitu posisinya, kita hanya bisa berusaha untuk menerima keberadaan mereka, bagaimanapun kondisinya. Para pemimpin-pemimpin kita itu adalah orang-orang yang harusnya dihormati, seburuk apapun perkataan orang tentang mereka.
Cerita ini tidak berlaku untuk pemimpin yang tergolong anggota parlemen, saya gak ngerasa memilih mereka soalnya.
Udah ah, lanjut kerja.
Ah.. Apa? Bapak suruh saya terjun dari lantai 8? Oke bos, tunggu ya, saya meluncur sekarang..
Wajar gak sih? Kalo masih kerdil dulu, sih wajar. Tapi kalo udah dewasa gini masih aja pikirannya kaya gitu, patut dipertanyakan, deh..
Atasan dan orang tua adalah figur pimpinan dan teladan. Dari mereka kita belajar dan mencontoh hal baik dan dari mereka juga kita belajar yang buruk untuk tidak ditiru. Menjadi pemimpin, tantangannya banyak, salah satunya kritikan dan ketidakpuasan dari yang dipimpin. Ketika kita berkonflik dengan orang tua, entah itu konflik kecil maupun yang cukup besar (jadi inget Arumi Bahcsin, hehe) #gosipdetected #abaikan, kadang kita cenderung menyalahkan mereka.
Mengapa demikian? Karena kita menginginkan figur mereka untuk selalu tampil sempurna. Kita lupa, kalo mereka juga manusia. Sekuat apapun mereka, kadangkala mereka salah. Sehebat apapun mereka, ada kalanya mereka keliru. Orang tua dan atasan memang harusnya jadi contoh, tapi bukan berarti mereka gak boleh salah, ya kan.
Kita harus ingat, betapa sabarnya mereka ketika mengajari hal baru. Betapa mudahnya mereka memaafkan kita ketika kita melakukan kesalahan "namanya juga masih belajar, yang penting jangan diulangi,ya". Kurang baik apa ya gak sih..
Dalam hal pertemanan, atau pacaran, kita masih bisa milih. Tapi kalo orang tua? gak bisa kan. Atasan? Mana bisa milih juga. Kalo udah tau gitu posisinya, kita hanya bisa berusaha untuk menerima keberadaan mereka, bagaimanapun kondisinya. Para pemimpin-pemimpin kita itu adalah orang-orang yang harusnya dihormati, seburuk apapun perkataan orang tentang mereka.
Cerita ini tidak berlaku untuk pemimpin yang tergolong anggota parlemen, saya gak ngerasa memilih mereka soalnya.
Udah ah, lanjut kerja.
Ah.. Apa? Bapak suruh saya terjun dari lantai 8? Oke bos, tunggu ya, saya meluncur sekarang..