Si A berbakat menyanyi seriosa, si B berbakat menari bak penari professional di usia yang begitu dini. Si H mampu menyanyi dengan suara pria dan wanita. Semua yang saya misalkan tadi merupakan bakat di bidang seni. Ada banyak bakat lainnya yang sering kita lihat di sekeliling kita, bakat meyakinkan orang lain, bakat intuisi dan sebagainya yang dapat membawa manfaat bagi diri seseorang serta orang-orang di sekelilingnya. Bakat itu "gift" sepertinya. Pemberian Tuhan yang nampaknya tidak akan bersinar tanpa adanya kerja keras.
Saya senang di televisi saya melihat ada suatu program pencarian bakat, yang sepertinya memperluas kesempatan bagi insan berbakat Indonesia untuk menunjukkan kemampuan menghiburnya (entertaining talents).
Melalui acara televisi yang satu ini, saya terpukau bahwa di negara yang bernama Indonesia ini, ada alat musik bersuara indah bernama Sasando, ada trio berbakat nun dari jauh sana yang mampu menari dengan apik, ada sekumpulan penari cilik yang menari tradisional dengan penuh rasa bangga, dan berbagai macam bakat menghibur lainnya. Tapi bukan Indonesia namanya apabila tidak ada unsur dramatisasi menyertai perjalanan pesertanya.
Adalah salah satu kelompok peserta yang sejak pertama kali juri memilih mereka, membuat saya heran. Sekumpulan pengamen demikianlah yang memiliki bakat kreatif mengubah barang-barang rongsokan menjadi alat musik. Kreatif oke, berbakat, ya bisa dikatakan demikian, tapi kreatif saya rasa tidak, karena di luar sana ada banyak kelompok musik yang melakukan hal yang sama dengan sama baiknya. Apa yang berbeda dari mereka? Sepertinya keberuntunganlah yang membedakan. Maafkanlah saya wahai para penggemarnya, karena saya kurang memiliki kemampuan untuk melihat apa kelebihan mereka dibandingkan peserta lainnya. Saya hanya heran, itu saja.
Sejak pertama mereka tampil, saya melihat pembuat acara mengarahkan perhatian pemirsa (sumber dukungan sms) kepada asal-usul mereka, dibandingkan kepada apa bakat mereka. Sangat Indonesia sekali. Jujur, saya geregetan ketika penyanyi two-in-one terbaik di dunia berada di panggung yang sama dan harus kalah. Penari cilik yang memiliki bakat menari di jantung dan darahnya juga harus kalah.
Disini nyata saya sesadarnya melihat bahwa pemirsa Indonesia sejatinya tetap setia pada sinetron. Reality show pun bertema sinetron, tidak aneh bila program pencarian bakat ini terlihat kesinetron-sinetronan. Kecewa sedikit jadinya kok judul acaranya tidak sesuai dengan isinya. Lebih pantas mungkin diganti judulnya menjadi INDONESIA MEMBERI ZAKAT. Sayang sekali, karena ada begitu bakat Indonesia yang disurutkan oleh sekedar belas kasihan pemirsa. Okelah mereka pekerja keras, tapi kan dari pertama yang dicari adalah "bakat"nya bukan "kerja keras"nya.
Entahlah, apa selera saya saja yang kurang ngendonesia. Kurang kampungan, sehingga saya hanya melihat penampilan mereka seperti pengamen yang mampu menaikkan derajat mereka ke atas panggung televisi. Ah, kecewa saya. tapi tak apalah, hitung-hitung memanjakan pemirsa yang toh demen sekali sama "drama rubah nasib".
Lihat sajalah, paling-paling si penyanyi muda bersuara merdu itu yang kalah, kan dia bukan orang miskin. Kalo dia yang menang rasanya kurang dramatis aja gitu loh...