Minggu, 17 Oktober 2010

Arti Sebuah Nama

Jika saya suatu hari nanti ditakdirkan untuk amnesia, tentu hal pertama yang akan saya lupakan adalah banyaknya nama panggilan saya. Nama saya singkat, tapi bermacam-macam panggilannya, sesuka-suka yang manggil aja. Ceritanya, entah mengapa orang tua saya menamai saya "Purna Fitria". Jika diartikan per kata, "purna" berarti "pasca" sedangkan "fitria" berasal dari kata "fitri" yang berarti "suci" which means, nama saya berarti "tak suci lagi".

Oh tidak!

Namun, tidak demikian bagi orang tua saya. Mereka mengartikan "purna" sebagai "titik tertinggi" sedangkan "fitria" berarti "suci". Nah, dengan demikian dapat diartikan nama saya itu "yang paling suci". Bisa diterima, karena saya lahir ketika malam Idul Fitri. Terkadang ketika saya memiliki waktu bengong yang cukup banyak, saya kepikiran, kenapa orang tua saya tidak sekalian menamai saya "Maha Fitria" saja. Setidaknya nama itu lebih "ear catchy", dan tidak membuat saya harus menyebut dua kali hingga menghadapi dialog panjang saat memperkenalkan diri kepada orang lain.

Apalah itu, hingga saat ini saya tidak memprotes sedikitpun keputusan orang tua saya mengenai penamaan diri saya. Saya pun teringat pepatah populer William Shakespeare "Apalah arti sebuah nama". Yang cukup saya yakini, nama saya adalah cerminan kesederhanaan kedua orang tua saya. Dan rasanya, tidak cukup banyak alasan untuk potong kambing alias ganti nama. Toh, saya bukan artis yang butuh nama komersil. Sebagai manusia biasa, I can live with it, that's all..

Akan tetapi, siapa sangka ternyata di balik nama yang sederhana itu, terkandung kepelikan dalam pengambilan nama panggilan. Memang agak lelah dan bingung sendiri ketika saya memperkenalkan diri di hadapan orang baru. Di rumah saya dipanggil "tri" atau "eulik" (jauh banget,kan). Di sekolah dan kampus saya dipanggil dengan nama depan. Ada yang dengan semena-mena memanggil "Bik Pur". Beberapa adik tingkat memanggil saya "Mbak Na". Demikian hidup saya nyaman bertahun-tahun dipanggil "Bana-bana". Ah, sesuka temanku saja..

Lalu, setahun kemudian saya mulai ngantor dan dengan seenaknya teman saya memanggil saya "fitri" Satu per satu hingga kesemuanya mulai memanggil demikian hingga saya refleks sendiri memperkenalkan diri dengan nama "fitri". Kadang jijay sendiri karena nama itu "agak pasaran" dan "sinetron banget" tapi senang juga karena "aman" sebab tidak perlu lagi ada pengulangan-pengulangan dalam perkenalan.

Ilustrasi :
DULU
Me : "Perkenalkan nama saya Purna Fitria, biasa dipanggil Purna"
Others : "Oh, Purnama"
Me : "Bukan, Purna saja"
Others : "Parno?"
Me : "Purna, titik." (masih senyum)
Others : "Oooh, Purnawirawan ya, anak TNI ya?"
Me : "Bukan kok pak"
Others : "lha kok namanya Purna Fitria, artinya apa?"
Me: (dengan sabar menjelaskan asal mula nama saya dari arti per kata hingga sejarah kelahiran)
Others : "Ohhh" (manggut-manggut) *diragukan ngerti atau enggaknya*
"kalo gitu pangil Pur aja ya.. Puur" (kayak manggil ayam)
Me : "terserah, asal jangan Joko aja" (masih dengan senyum tulus)
Others : "namamu kayak nama pembantu"
Me : (aduk-aduk tanah)

Yaaah... saya seharusnya mengucapkan terima kasih kepada teman saya yang memanggil saya "Fitri" untuk pertama kali. Sehingga dialog-dialog tidak penting seperti di atas tidak harus terulang lagi dan lagi.

Ilustrasi
SEKARANG
Me : "Perkenalkan, nama saya Purna Fitria, panggil saya Fitri"
Others : "Halo Fitri, saya Ariza, panggil aja Ija"
Me : (balas dendem) "kok kaya nama pembantu ya"
Others : (garuk-garuk tanah)
Me : (muka lempeng)

See? saya bisa menghemat 50% space buat mempersingkat dialog dengan nama itu. Begitulah, selanjutnya sehingga sekarang saya makin mencintai "part of my name" yang rada pasaran namun sangat membantu saya mempersingkat durasi perkenalan diri saya.

Pesan moral :
"how silly our name is" gak penting, yang penting kan kepribadian kita.
Just love your name, because if we don't, who else will?