Minggu, 04 November 2012

Gerimis Romantis

Teringat akan hujan gerimis kecil-kecil pagi itu, ketika aku dan kamu berlari kecil-kecil menghindarinya. Tapi kita tetap basah. Kebahagiaan kecil adalah melihatmu senyum dan tawa itu, walau mukamu basah oleh  percikan hujan bercampur peluh.

Kamu tau, benci setengah matinya dulu aku pada hujan. Yang selalu memisahkan jarak dua manusia dalam keadaan yang tidak mendukung. Teringat aku akan saat dimana aku tinggal sendirian dikurung hujan, hanya berteman secangkir teh hangat dan menyesapi butiran demi butiran kesepian untuk dituangkan dalam tulisan di ruang maya.

Senyum itu, telah mengubah kebencianku. Bahwa tak selamanya basah kuyup yang dibuatnya, serta angin dingin yang dibawanya harus membuatmu lara. Hujan gerimis tak kalah romantis, dibandingkan cerita-cerita ceria yang dibawa salju ataupun musim panas yang lebih bergengsi.

Kita berlari kecil di atas ilalang. Yang tinggal tersisa sedikit putihnya hanya untuk kita. Aku yakin, tidak lama lagi hujan akan membawa lari kapas-kapas putih itu dan menunggu waktu berbulan-bulan untuk membawanya kembali bersama kemarau panjang.

Kita berlari kecil menyusuri jalanan setapak, bergandengan tangan, merekam jejak tawa dan gelak bahagia untuk diabadikan. Hingga tak terasa berganti malam.

Satu hari yang indah bersamamu, hujan, ilalang dan daun-daun dan tentu saja polusi Jakarta dan lampu jalanan di malam hari. Kita lelah. Namun, belum pernah kurasakan sebelumnya, pengantar tidur seindah cerita kita kemarin.