Ketika perasaan sedang gundah gulana, sedang bingung, atau ketika sedang dilanda kekesalan, saat itulah kita membutuhkan seseorang untuk berada di samping kita sekedar untuk menjadi pendengaran dan meringankan beban kita. Beruntung kalo kita punya temen yang pengertian, yang mengerti posisi dan tugas dia sebagai teman. Kadang sih jujur, ketika kita di posisi yang tidak mengenakkan, saat itulah kita butuh untuk didengarkan, bukan untuk dihakimi, ya kan. Bahkan sebenarnya kita cuman butuh tempat cerita, bukan seseorang yang mencarikan kita solusi. Intinya mah, curhat alias curahan hati.
Beberapa dari kita mungkin beruntung punya teman curhat. Beberapa dari kita memilih untuk malahan "curhat" di dunia maya, entah itu lewat ngeblog, nge-buzz sahabat via ym, ato yang lebih ekstrim, curhat di status fb ato twitter. Dan kita juga harus berhati-hati curhat seperti ini jika dilakukan terlampau intensif berpotensi menyebabkan orang-orang lain yang gak siap menjadi pendengar memilih untuk memencet tombol unfollow atau unfriend alias hengkang dari pertemanan. Jadi kalo curhat mesti hati-hati dan tau tempat ya..

Hal itu karena tidak semua orang siap jadi pendengar. Itu sih yang sebenernya perlu diketahui oleh curhater-curhater (istilah saya buat tukang curhat). Tapi yang namanya orang lagi kesel, lagi bete, lagi sedih, kadang mana sempet mikirin siap ato gak siapnya si pendengar. Intinya right here right now aku pengen curhat. Itu aja. Nah, kalo gini ceritanya, si curhater harus siap mental juga atas salah satu kemungkinan kurang asik, yaitu mendengar kata : mangkanya.
Mangkanya jangan begini, mangkanya jangan begitu. Waduh rasanya gimana ya kalo lagi sial, lagi merasa bersalah, lagi dirundung masalah dan pengen didengerin, malah dibilangin mangkanya. Padahal, mangkanya ini, mangkanya itu tadi tidak bakalan mengubah keadaan, tidak bakalan merubah kejadian yang sudah berlalu, dan yang pasti tidak bakalan merubah manyun jadi senyum (yang ada manyun tambah manyun) Jadi, buat apa kata mangkanya tadi harus keluar dari mulut kita ya? Refleks.
Kebalikannya yang tadi, karena kita tidak siap menjadi pendengar yang baik. Mungkin kita memang bukan pendengar yang baik, atau mungkin ya kita suka aja melihat orang lain sedih. Banyak kemungkinan sih. Tapi satu hal yang pasti, tidak akan ada kesedihan yang berubah jadi kebahagiaan berkat kata mangkanya. Dan, "mangkanya" tidak akan pernah menyelesaikan masalah, kecuali kalo diikuti oleh solusi. Itupun gak bakalan berguna buat si curhater, karena pada intinya, seperti yang tadi saya bilang, mereka butuh didengarkan, bukan buat dikasih solusi. Kalo untuk itu sih, sebenarnya mereka sudah tau pasti solusinya apa.
Tapi karena ini blog saya sendiri saya boleh dong nulis dua mangkanya :
1. Mangkanya, kalo mau curhat liat-liat tempat dan situasi.
2. Mangkanya, jangan suka ngomong mangkanya.
^_^
Beberapa dari kita mungkin beruntung punya teman curhat. Beberapa dari kita memilih untuk malahan "curhat" di dunia maya, entah itu lewat ngeblog, nge-buzz sahabat via ym, ato yang lebih ekstrim, curhat di status fb ato twitter. Dan kita juga harus berhati-hati curhat seperti ini jika dilakukan terlampau intensif berpotensi menyebabkan orang-orang lain yang gak siap menjadi pendengar memilih untuk memencet tombol unfollow atau unfriend alias hengkang dari pertemanan. Jadi kalo curhat mesti hati-hati dan tau tempat ya..
Hal itu karena tidak semua orang siap jadi pendengar. Itu sih yang sebenernya perlu diketahui oleh curhater-curhater (istilah saya buat tukang curhat). Tapi yang namanya orang lagi kesel, lagi bete, lagi sedih, kadang mana sempet mikirin siap ato gak siapnya si pendengar. Intinya right here right now aku pengen curhat. Itu aja. Nah, kalo gini ceritanya, si curhater harus siap mental juga atas salah satu kemungkinan kurang asik, yaitu mendengar kata : mangkanya.
Mangkanya jangan begini, mangkanya jangan begitu. Waduh rasanya gimana ya kalo lagi sial, lagi merasa bersalah, lagi dirundung masalah dan pengen didengerin, malah dibilangin mangkanya. Padahal, mangkanya ini, mangkanya itu tadi tidak bakalan mengubah keadaan, tidak bakalan merubah kejadian yang sudah berlalu, dan yang pasti tidak bakalan merubah manyun jadi senyum (yang ada manyun tambah manyun) Jadi, buat apa kata mangkanya tadi harus keluar dari mulut kita ya? Refleks.
Kebalikannya yang tadi, karena kita tidak siap menjadi pendengar yang baik. Mungkin kita memang bukan pendengar yang baik, atau mungkin ya kita suka aja melihat orang lain sedih. Banyak kemungkinan sih. Tapi satu hal yang pasti, tidak akan ada kesedihan yang berubah jadi kebahagiaan berkat kata mangkanya. Dan, "mangkanya" tidak akan pernah menyelesaikan masalah, kecuali kalo diikuti oleh solusi. Itupun gak bakalan berguna buat si curhater, karena pada intinya, seperti yang tadi saya bilang, mereka butuh didengarkan, bukan buat dikasih solusi. Kalo untuk itu sih, sebenarnya mereka sudah tau pasti solusinya apa.
Tapi karena ini blog saya sendiri saya boleh dong nulis dua mangkanya :
1. Mangkanya, kalo mau curhat liat-liat tempat dan situasi.
2. Mangkanya, jangan suka ngomong mangkanya.
^_^