Kamis, 17 Maret 2011

Punya Aku!

Punya aku! adalah kalimat andalan anak salah satu temenku di kantor, si Chelo. Jika dia merasa memiliki satu barang, jangan harap boleh di pinjem, bahkan emaknya juga gak dikasih pinjem sama dia. Punya tas, Punya Aku!, punya kipas, Punya Aku! punya boneka, Punya Aku! semua-muanya punya aku! sampe tivi di rumah diklaim Punya Aku! sama dia hehe.. Lucu sih liatnya, soalnya si Chelo ini baru berumur 3 tahun. Masih sekecil ini "sense of belonging" nya udah tinggi banget.. :)

Namun, apa jadinya, kalo sikap "Punya Aku!" yang sedang digandrungi oleh si Chelo kecil, malah menjangkiti kita-kita yang udah tua - tua ini, (ups salah) maksudnya yang udah dewasa ini. Malah jadi-jadian yang ada. Istilah populernya pelit, lah. Tapi untuk postingan ini saya ganti kata yang agak kurang enak didengar itu menjadi kata sikap ke"Punya Aku!"-an.

Halach!

Sikap ke "Punya Aku!"-an identik dengan hal-hal yang bersifat materi. Tapi sebenarnya, ia gak hanya bergentayangan dalam hal materi saja. Kadang kita luput dari kesadaran bahwa ada beberapa kesempatan yang kita anggap "Punya Aku!", padahal kenyataannya gak selalu demikian.

Sehari-hari di perjalanan dua puluh menitan dari rumah ke kantor atau sebaliknya, saya menyaksikan fenomena "Punya Aku!" menjangkiti kawula muda di kereta yang saya tumpangi. Cowok muda sehat walafiat nebeng kereta khusus wanita, orang sehat walafiat tega duduk sambil pura-pura tiduran di kereta sementara didepannya ada nenek-nenek/ibu hamil berdiri. Semuanya gak mau kalah sama Chelo, pengennya "Punya Aku!".

Gemes, kalo udah kadung gemes, kadang biji mata ini hampir keluar buat melototin oknum yang bersangkutan sampe dia ngerasa. Kadang jika sudah segitu cueknya, disindirin. Tapi kadang, Cape! Kdang-kadang yang kaya gitu suka diperangin sih, sama emak-emak yang lebih judes dari saya. (Lah, emang situ judes? Geer!... Hahaha). Kalo sudah gitu selamatlah urat syaraf indera penglihatan saya dri kemungkinan bola matanya ngeloncat.

Kadang kita berpuas diri dapet posisi wenak di kereta/bis/kendaraan umum lainnya, duduk nyaman, pas di bawah penyejuk udara, tapi kita kudu ingat juga kalo posisi itu bukan "Punya Kamu!". Kita hanya dipinjemin sementara, selama belum ada orang lain yang membutuhkan posisi itu. Kalo ada nenek-nenek yang secara kasat mata aja udah ketauan gak kuat berdiri lama, ibu hamil yang secara kasat mata sedang menanggung beban berat, atau orang-orang lainnya yang butuh diberikan posisi wenak yang kita miliki tadi, harusnya tanpa perlu diberitahu kita harus mengembalikannya ke orang yang lebih butuh. Kalo emang ujung-ujungnya posisi itu buat kita, pasti satu saat akan dikembalikan lagi kok. Kayanya, teori ini berlaku tidak hanya bagi posisi wenak di kendaraan umu, tapi juga berlaku umum bagi berbagai kenikmatan-kenikmatan dunia yang kita cecap.

Kadang karena kadung ngerasa "Punya Aku!" kita jadi lupa kalo semua yang kita miliki saat ini gak ada yang "Punya Aku!". Semuanya dipinjamkan. Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk tidak terlalu mencintai yang kita miliki, ya. Mudah-mudahan apabila yang kita "rasa" punyai harus diambil, kita bisa ikhlas. Amin..