Inilah alasan mengapa saya lebih suka nge-blog dibandingkan bercuit-cuit di Twitter. Saya bisa mengutarakan satu ide atau opini dengan lebih dari 140 karakter. Saya bisa menulis banyak kalimat dengan struktur lengkap (Subjek + predikat + objek+ keterangan) tanpa menyingkat-nyingkat dan tanpa rasa bersalah dengan menggantikan huruf dengan angka.
Posting kali ini singkat saja. Semalam teman saya curhat sedikit tentang rekan di kantornya yang entah karena alasan apa, kayaknya gak suka dengan temen saya itu. Perkiraan temen saya sih, karena cemburu buta gitu. Semalam saya hanya bisa jadi pendengar yang baik. Tapi saya kepikiran juga pas bangun tidur pagi ini.
Topik ini gak asing. Tapi gak cuma temen saya kok, saya juga kadang menghadapi beberapa orang entah di sekolah, tempat les, bahkan di tempat-tempat lain dimana kita bertemu banyak orang, yang malah menunjukkan dengan jelas akan ketidaksukaan kepada diri saya. Saya tidak tau (dan tidak mau tau) apa alasan mereka bersikap demikian. Tapi, selama kita tidak merasa ada hal-hal yang kita sengaja membuat mereka tidak suka, ya, ngapain diambil pusing?
Intinya begini saja. Kita tidak bisa membuat 100% orang yang kita kenal menyukai kita. Pasti ada sekian persen yang tidak sepakat. Kita tidak perlu menghabiskan energi kita untuk membuat mereka yang tidak suka jadi menyukai kita. Tugas kita hanya satu : memastikan mereka tetap sedikit. Semakin minoritas mereka, semakin kecil gangguannya, ya kan.
Yang jadi masalah adalah jika yang gak suka sama kita jumlahnya banyak. Kalo begini ceritanya solusi yang terbaik adalah mencari kaca yang besar dan memulai instrospeksi diri, pasti ada yang salah pada diri kita, pada sifat kita, atau jangan-jangan pada aroma tubuh kita, hehehe..
Mudah-mudahan satu orang gak suka sama kita bikin kita murung ya..
...Cheers...