Senin, 21 Februari 2011

Meneladani Anak Kecil

Beberapa tahun yang lalu, ketika masih kecil kita diajarkan ayah bunda untuk bersikap terpuji seterpuji-pujinya. Apa-apa jangan lupa berdoa. Kalo salah jangan lupa minta maaf. Kalo dibantu bilang terima kasih. Ajaran sederhana, namun menjadi kode etik sopan santun yang sepatutnya jadi bekal hidup kita ke depan.

Entah karena apa, modernisasi, globalisasi, aliran sesat atau apalah namanya, kok ya sekarang mempraktekkan yang sedemikian sederhana itu sepertinya susah banget. Berdoa sebagai adab permulaan setiap perkara kadangkala diringan-ringankan. Bismillah, tok! Kemana ya larinya hapalan doa-doa yang dulu diajarkan ustad/ustadzah di pengajian anak-anak.

Minta maaf, aduh kok susahnya minta ampun. Terkadang jelas-jelas salah, masih aja ngeles kaya bajay. Hihihi.. Malu deh sama anak kecil. Dan yang lebih memalukan, jika menerima kebaikan jarang bilang makasih. Kalo anak kecil, dibaikin, dia pasti bilang makasih om, makasih tante. Idih ngegemesin deh.. Kalo orang dewasa dibaikin, malah bilangnya : "tumben lo baik, pasti ada maunya ya?".. See? ternyata orang dewasa lebih ngegemesin ya..

Aduh kok ya jadi curhat gini. Tapi itulah yang saya hadapi dan saya saksikan. Kita sebagai orang dewasa kadang kepengen punya anak/adik yang baik, penurut, pinter ngaji dan sopan santun. Tapi kadang kita sendiri terlalu berkutat pada teori. Padahal, anak kecil ya anak kecil, apa yang mereka lakukan adalah mencontoh. Contoh terbaik adalah teladan. Anak kecil itu kerjanya meneladani, masa iya kita relain mereka meneladani yang jelek-jelek dari kualitas diri kita.

Kenapa sih, kalo dibaikin malah balik curiga?

Apa jangan-jangan karena kita merasa tidak pantas menerima segala kebaikan-kebaikan itu?

Ah, capek ngomong, pokoknya intinya itu deh...