Kamis, 06 Januari 2011

Sukuisme Udah Gak Jaman, Bro!

NO SARA.

Semakin dewasa, kehidupan menjadi semakin kompleks. Semakin banyak hal yang kita temui, semakin kaya kita akan pengalaman. Semakin banyak kita bertemu orang lain, semakin luas wawasan kita.

Jaman dulu, mungkin nenek moyang kita taunya cuma sodaranya aja, kerabatnya, kampung halamannya dan semua yang terjadi disekitar-sekitarnya aja. Tidak banyak yang dilihat, tidak banyak yang ditemui, tidak banyak yang dialami, wawasannya ya sebatas itu-itu aja.

Semakin maju kehidupan manusia, teknologi membantu manusia menjadi lebih baik. Televisi membuat kita tau, jika di belahan dunia lain ada yang namanya salju dan gurun pasir. Manusia tidak hanya yang berjenis rambut hitam, namun yang pirang juga ada. Dan bermacam-macam informasi lainnya yang semakin luas. Era internet sekarang-sekarang ini membuat seluruh penjuru dunia bagai tak terbatas ruang dan waktu. Kita bisa mengenal dan berkomunikasi dengan bule atau pakle di belahan dunia lain, yang pas waktunya kita tidur dia malah sedang giat bekerja.

Dipikir-pikir kalo kita hidup di jaman dulu, gak gaul banget gak sih. Taunya cuma bahasa kampungnya sendiri, boro-boro bisa bahasa inggris, bisa ngomong bahasa Indonesia pun udah sukur. Waduh, saatnya bilang terima kasih banyak sama penemu televisi dan internet.

Tapi sayang banget, udah jaman internet merajalela, masih ada beberapa dari kita yang menganggap bahwa my kampung is the best. Okelah kalo dikaitkan dengan nasionalisme, memang kita patut mencintai negara kita, tidak melupakan asal usul kita. Namun dari kerangka nasionalisme, ternyata my kampung is the best alias sukuisme menjadi semacam duri dalam daging.

Bagaimana tidak jika duri itu terselubung di dalam diri orang-orang yang berpendidikan. Sukuisme yang berlebihan itu banyak cirinya. Misal nih, menganggap suku lainnya (padahal sama-sama orang Indonesia, lho) lebih jelek, menganggap sukunya sendiri yang paling oke, menstandarkan semua adat istiadat menggunakan adat istiadatnya sendiri sehingga apabila ia menemui adat istiadat dari daerah lain yang berbeda dengan adat di daerahnya ia akan menganggap adat tersebut aneh (padahal semua daerah memiliki adat budaya yang khas, masa harus dipaksakan sama) dan ciri yang terakhir yang paling sering ditemukan, sukuisme yang berlebihan membuat seseorang bangga untuk bercakap-cakap dengan bahasa daerah di dalam forum nasional.

Forum nasional disini bisa jadi forum formal maupun informal. Pernah gak sih kita cuek ngomong pake bahasa daerah kita dengan teman lain yang kebetulan bisa, di tengah-tengah orang lain yang gak ngerti sama sekali sama bahasa itu. Gimana gak ngerasa terasing temen kita yang lain, yang bisa jadi dia sendiri yang berbeda suku. Padahal kalo kita menggunakan bahasa Indonesia akan lebih baik kan. kecuali, kalo memang forumnya isinya orang satu daerah, itu lain cerita.

Ayo coba di cek apa kita termasuk di dalamnya? Terkadang hal-hal begini kita lakukan juga tanpa sadar. Ssst.. terkadang di instansi nasional pun apabila seorang tokoh dari suku tertentu memegang tampuk kepemimpinan, tidak kecil kemungkinannya dia akan merekrut orang-orang yang satu suku dengannya ke posisi-posisi strategis. Miris sekali bila, sukuisme mengalahkan objektifitas dan profesionalisme. Tapi terkadang, memang realita lebih mengerikan dari cerita hantu.

Yah, mungkin ini pilihan ya tapi alangkah nyamannya hidup berdampingan tanpa adanya kesenjangan. Indonesia ini luas dan terdiri dari kepulauan, perbedaan adalah suatu kepastian. Bila kita tidak bersatu dan pilah-pilih pergaulan atas dasar kesukuan, entah kapan negara ini bisa maju.

Kita semua bersaudara. Jangan sampai ini menjadi sekedar slogan. Jaman sudah maju. Hidup sukuis tidak lagi jaman, bro. Percuma teriak "Garuda di Dadaku" sampe suara kita serak, apabila kita belum bisa menyingkirkan kerikil kecil sukuisme ini dari diri kita, ya kan?


Dan tidak jarang, ketika saya mulai mengobrol agak panjang sedikit dengan orang yang baru dikenal, dialog "Mbak ini orang mana sih?" pasti akan saya temui. Saya bukan orang Jawa, saya bukan orang Sunda bukan Orang Sumatra atau Tionghoa. Apabila memang saya ditanya orang mana, akan saya jawab :

"SAYA ORANG INDONESIA"